BERBAGI
ILUSTRASI

MR.co, BEKASI– Persoalan pengetap terjadi hampir di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bumi Batiwakkal. Bahkan, Bupati Berau Muharram menyebut SPBU sebagai distributor pengetap.

Dia mengatakan pada hakikatnya SPBU berfungsi untuk mendistribusikan BBM dengan aman dan merata, juga melakukan penerapan harga yang sesuai aturan berlaku. Sayangnya, dengan kondisi SPBU di Berau yang kerap ‘dikuasai’ pengetap, ia pun menyebut fungsi dari SPBU tersebut sudah tidak semestinya.

“Seolah jadi distributor bagi pengetap,” katanya, kemarin (28/1).

Dia merasa selama ini pihak SPBU yang melakukan pembiaran atas kondisi tersebut, mendapat keuntungan dari sisi operasional karena BBM-nya cepat habis. Sehingga ia melihat ada kerja sama antara SPBU dengan pengetap.

“SPBU dan pengetap ini kompak dan itu hasil survei kita,” tegasnya.

Mengatasi persoalan pengetap, PT Pertamina juga mengambil kebijakan terhadap distribusi BBM bersubsidi di salah satu SPBU. Sales Executive PT Pertamina wilayah Kaltara dan Berau, Andi Reza mengatakan, pada awal pekan ini, Pertamina sudah melakukan rapat koordinasi dengan Pemkab Berau, guna membahas persoalan pengetap yang kerap meresahkan masyarakat.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, katanya, Pertamina sudah melakukan uji coba pembatasan pembelian BBM bersubsidi seperti solar dan premium di SPBU Rinding.

“Untuk kendaraan roda empat kami batasi pembelian BBM maksimal Rp 200 ribu dan untuk sepeda motor maksimal Rp 50 ribu,” ujar Andi.

Karena pembatasan dilakukan terhadap BBM subsidi, dirinya menjelaskan untuk BBM non-subsidi seperti pertalite, pertamax dan dex tidak diberikan pembatasan. Selain itu, Andi menuturkan persoalan pengetap yang kerap mendominasi antrean di SPBU bukanlah hal baru dan tak hanya terjadi di Berau. Kondisi tersebut juga turut terjadi di Sumatera dan Sulawesi.

“Ini juga menjadi perhatian kami dan bersama pemkab kami berusaha mengatasinya,” pungkasnya. (*/fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here